Sabtu, 06 Oktober 2012

David Ricardo dalam Ide dan Pemikiranya.





Dalam catatan kali ini saya akan mencoba mengawalinya dengan kritik Edward Said terhadap sebuah Novel yang sangat tersohor karya Jane Austen, seorang novelis wanita dari inggris kelahiran 16 December 1775 – 18 July 1817. Dalam novelnya Mansfield Park Austen menggambarkan pesona tentang Mansfield Park yang berada di wilayah Northampton, Mansfield Park oleh Jane Austen digambarkan sebagai sebuah wujud atau cita rasa tentang gaya hidup yang mengokohkan symbol-simbol corak budaya imperialis ketimbang Antigua yang miskin, yang nestapa, primitive serta sarat dengan nuansa pengumbaran birahi semata oleh masyarakat mereka. Edward said memang tidak hendak menuduh Austen lewatr karyanya sebagai agen imperlialisme Inggris kala itu, yaitu terkait dengan isu perbudakan yang lepas dari diskursus Austen dalam novelnya.
Hal tersebut telah diutarakan oleh beberapa penulis yang meneliti tentang karya-karya Edward Said diantaranya adalah Shelley Walia yang dalam bukunya Edward Said and Writing History mengungkapkan bahwa:
Take, for instance, Jane Austen’s Mansfield Park. Said’s reading of it goes beyond the canonical view which either speaks of Austen’s lack of interest in colonial history or of her exaggerated concerns with domestic issues Said contextualises the novel within the areas of private domination and slavery. Sir Thomas Bertram’s absence from Mansfield Park for taking care of his agricultural enterprise in Antigua is necessary to maintain a certain order and a lifestyle back home; trade in slaves and sugar takes care of prosperity on the domestic front where the ambience of the imperialist culture pervades every aspect of life[1].
Pertanyaan kali ini adalah ada hubungan apa dengan kritik Edward Said terkait karya Austen dan  terhadap Pemikiran yang telah di torehkan oleh David Ricardo yang akan dibahas berilutnya? Tentunya kritik Edward Said menjadi sangat patut kita pertimbangkan karena dalam tadisi atau sejarah pemikiran ekonomi ide imperialisme ataupun kolonialisme ekonomi secara ideoligis terpengaruh oleh pemikiran dari aliran klasik seperti Smith, Say, David Ricardo beserta penganut Smithian lainnya. Karena sejarah telah bersaksi bahwa dokrin tentang Laissez Faire yang telah menciptakan peradaban dunia. Dokrin Laissez Faire juga di anut oleh David Ricardo dalam beberapa karyanya, kali ini sebelum terlalu jauh untuk sedikit memahami karya sang ekonom kaya raya tersebut setidaknya perlu kita ketahui sedikit tentang biografi sang pemikir ekonomi yang controversial tersebut. Setidaknya dengan memahami biagrafi atau riwayat sang pemikir ekonomi Inggris ini, kita akan sedikit mendapat gambaran terkait alur fikirnnya.
I Biografi singkat David Ricardo
Nama David Ricardo memang sering menjadi pembicaraan oleh para ekonom sesudahnya, cerita mereka tentang Ricardo kadang bernada sumbang dan kadang juga memuja bahkan menyanjung kontribusi pemikirannya. David Ricardo adalah seorang ekonom yang dilahirkan di Inggris pada 18 April 1772 dan meninggal pada 11 September 1823. Ia dilahirkan dari keluarga Yahudi yang kaya raya, Ricardo adalah anak ketiga dari 17 bersaudara, tapi menurut Sraffa seorang penulis yang mengkaji tentang Ricardo sekaligus Ricardian mengatakan bahwa Ricardo tidak hanya memiliki sadara 17 tetapi 23 bersaudara. Ayahnya yang bernama Abraham Israel Ricardo memang seorang Yahudi yang sangat konservatif, bahkan ketika Ricardo menikah dengan seorang pengikut Quaker (Organisasi Religius Kristen) bernama Priscilla Anne Wilkinson tidak mendapatkan restu dari kedua orang tuanya.
Pernikahannya pada tahun 1793 tidak hanya menjadi tonggak awal dalam sejarah biologisnya tetapi juga kehidupan perekonomiannya, karena pada tahun tersebut Ricardo di usir oleh keluarganya sehingga Ricardo dicabut hak warisnya. Meskipun beberapa waktu kemudian ayahnya berdamai dengan Ricardo, meskipun tanpa support dari keluargannya akhirnya pengembaraannya untuk terjun di dunia bisnis ia mulai dengan membawa beberapa pound kemudian Ricardo mulai terjun ke dunia perdagangan saham.
Perlu kita ketahui bahwa setelah kepergian Ricardo dari keluarganya ia menitih karirnya menjadi raja jual beli saham. “konon dia memiliki kecepatan luar biasa dalam memperkirakan pendapatan pasar dari setiap perbedaan asidental dari harga yang relative dari harga saham yang berbeda(obligasi pemerintah)[2]. Kemahirannya memprediksi saham memang bukan tanpa alasan karena pada usia 14 tahun dia sudah bekerja untuk membantu ayahnya menjadi anggota di London Stock Exchange[3]. Minatnya untuk mempelajari ekonomi lahir manakala ia membaca karya Smith The Welath of Nations pada tahun 1799 ketika ia tengah merampungkan studinya di Bath. Baru pada tahun 1815 ia sudah mualai menggarap magnum-opusnya Prinsiples of Political Economy and Taxation yang ia selesaikan pada tahun 1817. Dan selang dua tahun kemuadian karir politiknya didapatkan ketika berhasil menduduki kursi parlemen pada tahun 1819.     
Pada masanya Ricardo memang sangat dekat dengan beberapa ekonom besar seperti Robert Malthus, James Mill (Ayah Ekonom John Struart Mill) sampai-sampai setelah ia meninggal ia mewariskan hartanya kepada dua kawannya tersebut. Meskipun hidup se-zaman dengan JB Say namun mereka memiliki perbedaan pandangan dalam memahami teori ekonomi terutama dalam perdebatan terkait matematika ekonomi yang sudah saya singgung dalam catatan saya sebelumnya terkait JB Say. Selain itu Ricardo juga teman yang lainnya adalah Jeremy Bentham, dan ia pun masuk dalam anggota London's intellectuals, menjadi anggota Political Economy Club yang digawangi oleh Malthus.   
II Ide Serta Kritik David Ricardo
David Ricardo memang dikenal sebagai pemikir ekonomi yang banyak mendapatkan pujian dan kritikan pula. Anasir-anasir pemikirannya banyak menuai pro dan kontra di kalangan ekonom, akademisi serta praktisi. Bahkan ekonom seperti Ronald Coase[4] juga akat bicara dan mengatakan kalau pemikirannya lebih pantas di sebut sebagai “ekonomi papan tulis” (Coase 1992: 714). Kritik Coase mungkin cukup beralasan karena dogma Ricardo terhadap matematika ekonomi yang sebelumnya pernah di kritik oleh JB Say yang kemudian Say menyebutnya dengan teorisasi abstrak yang tanpa melihat konteks sejarah. Say kemudian memberinya label kepada pendukung matematika sebagai “para penghayal belaka”[5] namun disisi lain ada beberapa sumbangan positif yang telah di lahirkan oleh sang pemikir ekonomi kaya tersebut. Kontribusi ide serta pemikiran Ricardo antara lain:
1.      Kritik terhadap Bank of England.
Dari konteks sejarah kita dapat menerawang ketika pada tahun 1809 sampai dengan 1810 Inggris terperosok kedalam kubangan inflasi yang sangat dalam. Gejala inflasi tersebut terjadi karena kebangkrutan Inggris dalam membiayai perang, selain itu juga inflasi disebabkan oleh pencabutan standar emas oleh Bank of England. Dalam essay pertamanya The High Price of Billion Ricardo sangat mengecam keras terkait kebijakan yang dilakukan oleh Bank of England yang terlalu gegabah dalam menerbitkan uang kertas (banknote) secara berlebihan. Pendapat ditegaskan oleh Mark Skosen yang mengatakan bahwa:
[….] in which he argued that his country’s inflation wascaused by the Bank of England issuing excess bank notes. Ricardo was a believer in a rigid quantity theory of money, a view held by David Hume and others that the general price level was closely related to changes in the quantity of money and credit[6].    
 Kritik Ricardo terkait dengan kebijakan tersebut memang cukup memberi sebuah tekanan yang sangat berarti bagi Bank of England dalam bukunya Prinsiples of Political Economy and Taxation ia menawarkan sebuah solusi untuk dapat memulihkan situasi keuangan di Inggris yang kala itu benar-benar berada titik tergenting, Ricardo mengataka:
The remedy which I propose for all the evils in our currency, is that the Bank should gradually decrease the amount of their notes in circulation until they shall have rendered the remainder of equal value with the coins which they represent, or, in other words, till the prices of gold and silver bullion should be brought down to their Mint price.[7]                 
Distorsi yang diakibatkan oleh adanya inflasi tersebut memang membawa Inggris ke dalam keadaan yang sangat nestapa, belum lagi beban biaya untuk perang yang mau tidak mau selauruh rakyat Inggris pula lah yang harus menanggung resikonya.   
2.      Pengembangan Model Jagung (Corn Model)
Istilah jagung (corn) di inggris memiliki makna ganda yaitu bisa juga bermakna gandum dan hasil pertanian lainnya. Pada tahun 1815 Ricardo dan Malthus merancang sebuah proyek yang outputnya adalah sebuah buku yang berjudul Essay on the Influence of Low Price of Corn on the Profits of Stock dalam buku tersebut Ricardo dan Malthus mengembangkan hukum pendapatan yang menurun atau berkurang. Dalam pengambangan hukum pendapatan tersebut mereka berdua melakukan sebuah asumsi pendapatan dengan mengabstraksikannya pada produksi jagung kala itu. Dalam model jagung Ricardo ini semua input (tanah, tenaga kerja, capital atau modal) dikaitkan dengan harga jagung. Mark Skousen berhasil merangkum model jagung yang di konsepsikan oleh Ricardo sebagai berikut.
Saat tenaga kerja bertambah, diperlukan pula penambahan tanah untuk penambahan hasil-sebab tanah yang sudah dipakai berkurang kesuburannya atau produktivitasnya. Bahkan jika ditambahkan lagi tenaga kerja dan modal untuk kuantitas tanah yang sama, hasilnya akan tetap sama atau tidak bertambah. Akibatnya output bersih akan menurun dan pertambahan ekonomi akan merosot[8].
Akan tetapi kemudian model jagung tersebut tidak memiliki pengaruh terhadap peningkatan perekonomian, dan akibat kegagalan tersebut akhirnya Ricardo memutar haluan (tidak sepaham dengan idenya sendiri yang ia kembangkan bersama dengan Malthus) ia justru menentang apa yang ia kembangkan terkait model jagung tersebut. Ricardo justru berfikir berbalik dari ide sebelumnya, karena pandangannya terkait dengan penggunaan model jagung, karena dianggap tidak tepat jika harus melakuakan penambahan tanah dan memberikan upah tetap itu sangat tidak mungkin. Ketidak mungkinan tersebut dikarenakan dengan penambahan upah pekerja justru akan meningkatkan kualitas hidup pekerja yang kelak akan melahirkan idenya tentang hukum upah besi dan keuntungan komparatif dikemudian hari. Kemudia perubahan haluan tersebut juga digambarkan dalam pandangan Ricardo yang telah diulas oleh skousen:   
Dengan menginport lebih banyak jagung atau bahan pertanian lainnya dan menurunkan harga, para petani akan menurunkan upah, menikmati keuntungan yang lebih banyak, memicu lebih banyak infestasi dan oleh karena itu akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.[9]        
Kegagalan Ricardo dalam proyeknya bersama Malthus dengan menggunakan model jagungnya tersebut justru kelak akan melahirkan idenya terkait “keunggulan komparatif” yang tentunya akan menjadi influence atau landasan ideologis terhadap bergaungnya ide tentang kolonialisme ekonomi yang tentunya menjadi embrio perdagangan bebas atau ekonomi liberalisme.
3.      Paradoks Hukum Keuntungan Komperatif Ricardo
Ketika kita melihat apa yang telah banyak diungkapkan oleh David Ricardo dalam traktatnya On the principles of political economy, and taxation, Ricardo banyak membicarakan tentang adanya hukum keuntungan komparatif. Hukum keuntungan komparatif yang Ricardo ilustrasikan ialah dalam traktat tersebut ia memotret fenomena tentang produksi anggur di Portugal dan Produksi pakaian di Inggris. Dalam traktat setebal 483 halaman tersebut Ricardo mengungkapkan:
The quantity of wine which she shall give in exchange for the cloth of England is not determined by the respective quantities of labour devoted to the production of each as it would be if both commodities were manufactured in England or both in Portugal England may be so circumstanced that to produce the cloth may require the labour of 100 men for one year and if she attempted to make the wine it might require the labour of 120 men for the same time England would therefore find it her interest to import wine and to purchase it by the exportation of cloth.
To produce the wine in Portugal might require only the labour of 80 men for one year and to produce the cloth in the same country might require the labour of 90 men for the same time It would therefore be advantageous for her to export wine in exchange for cloth This exchange might even take place notwithstanding that the commodity imported by Portugal could be produced there with less labour than in England Though she could make the cloth with the labour of 90 men she would import it from a country where it required the labour of 100 men to produce it because it would be advantageous to her rather to employ her capital in the production of wine for which she would obtain more cloth from England than she could produce by diverting a portion of her capital from the cultivation of vines to the manufacture of cloth[10].
Dalam pandangan Ricardo yang terdapat kutipan diatas, kita dapat menganalisis bahwa untuk mendapatkan kuantitas dari hasil produksi anggur, untuk melakukan pertukaran perdagangan menjadi sebuah keniscayaan karena produksi anggur di Portugal memang tidak secara determinasi berhubungan dengan kuantitas pertumbuhan atau peningkatan secara kuantifikasi dari pertumbuhan buruh semata, akantetapi disini Ricardo menekankan dengan adanya keuntungan komparatif yang harus dimiliki oleh kedua negara dalam hal ini Inggris dan Portugal yang menghasilkan dua komoditas yaitu pakaian dan anggur. Di Inggris diperlukan 100 pekerja untuk memproduksi pakaian sedangkan diperlukan 120 tenaga kerja untuk memproduksi wine. Sedangkan di Portugal untuk memproduksi wine diperlukan diperlukan sedikit pekerja untuk memproduksinya, akantetapi Portugal tidak memiliki kemampuan atau keunggulan dalam meproduksi pakaian karena diperlukan tenaga kerja yang lebih banyak ketimbang di inggris.
Jadi sekali lagi ini yang menjadi legitimasi yang mengharuskan diberlakukannya kebijakan memberikan ruang selebar-lebarnya untuk melakukan manfaat komparatif dalam perdagangan. Sama dengan Smith yang mngusulkan adanya defision of labour, Ricardo juga menyarankan bahwa perlu adanya spesialisasi yang bersifat memaksa, pada Negara-negara yang memiliki perbedaan sumberdaya, cost produksi dan tenaga kerja, agar Negara-negara tersebut dapat berproduksi secara maksimal dan efisien. Dengan kata lain diskursus yang di lontarkan oleh Ricardo telah membawa pada suatu keadaan bahwa forced specialization pada perdagangan antar Negara sangatlah diperlukan, seperti yang ia ilustrasikan pada contoh perdagangan anggur dan pakaian di Portugal dan Inggris.
Namun basis teoritis yang di ungkapkan oleh Ricardo lagi-lagi menjadi salah satu legitimasi barat untuk memberlakukan hal yang sama terhadap bangsa-bangsa yang ada di Asia, Afrika dan Amerika Selatan. Lagi-lagi barat menjadikan liberalisme kalsik sebagai landasan teoritis ekonomi kolonialisme yang kemudian menyeret Negara-negara Asia, Afrika dan Amerika Selatan ke dalam kubangan penderitaan. Dari sini dapat kita lihat bahwa pemikir-pemikir ekonomi klasik seperti Smith dan Ricardo menjadi pemicu dibukanya liberalisasi ekonomi atau perdagangan bebas.
Seperti yang telah saya singgung dalam awal catatan ini bahwa dokrin yang lemparkan oleh para pemikir klasik ternyata seperti dua mata pisau yang disatu sisi membawa atau membuka peradaban baru bagi masyarakat Asia, Afrika dan Amerika latin untuk tunduk melalui budaya barat, akan tetapi barat juga melakukan eksploitasi terhadap budak yang termanifestasi melalui perdagangan budak yang tidak berhasil ditangkap atau di uraikan oleh Austen dalam novelnya tersebut.


Ini yang mungkin dapat kita lihat sebagai paradoks dari hukum keuntungan komparatif yang didesain oleh Ricardo. Akantetapi disisi lain landasan ideology yang dikumandangkan oleh Ricardo justru menjadi seruan untuk melakukan ekspansi territorial yang kelak akan melahirkan kolonialisme perdagangan.        

4.      Hukum Upah Besi dan Penurunan Profit
Dari pandangan hukum inilah kemudian Ricardo mendapatkan kecaman secara membabi buta. Hukum ini tentunya akan berakibat tragis untuk semua orang, kecuali untuk pemilik tanah. Menurut Ricardo buruh yang ia maksud adalah unit-unit yang seperti mesin-mesin produksi dan hanya mendapatkan upah subsistem dalam jangka panjang.
Pendapatnya laksana godam yang menghantam sekujur masyarakat khususnya buruh. Dengan tegas Ricardo mengatakan:“In proportion then as wages rose, would profits fall” (Ricardo 1951, vol. I: 111). Ricardo memiliki asumsi bahwa ketika upah pekerja naik, maka pekerja akan memiliki banyak anak, yang nantinya akan meningkatkan pasokan (supply) tenaga kerja, dan memaksa untuk upah tesebut turun kembali. Jadi sudah nampak gamblang bahwa hukum upah besi yang di utarakan oleh Ricardo menghadirkan gambaran tragis dan nestapa untuk pekerja atau buruh.
Gambaran muram yang disajikan oleh Ricardo secara kasat dapat kita kritisi, apakah dengan meningkatnya pendapatan atau gaji buruh maka akan menjadi reactor untuk pertambahan penduduk?.
Bertambahnya penduduk menjadi momok yang menakutkan bagi Ricardo dengan asumsi bahwa ketika harga gandum kala itu mengalami kenaikan, tentunya pemilik tanah akan mengalami keuntungan. Tetapi disatu sisi apakah dari penerapan hukum upah besi Ricardo tersebut akan berakibat pada naiknya komoditas atau semua kebutuhan-kebutuhan pekerja atau buruh? Kemuadian apakah dengan meningkatnya kesejahteraan karyawan akan berimbas pada meledaknya jumlah penduduk? Saya rasa kita perlu memikirkan kembali apakah pandangan Ricardo masih relefan? Ketika peningkatan upah di negara berkembang mengalami keningkatan apakah akan berkorelasi terhadap meningkatnya jumlah penduduk pula?.                          


[1] Shelley Walia yang dalam karyanya Edward Said and Writing History kurang lebih mengatakan: Ambilah contoh, karya Jane Austen Mansfield Park. Pembacaan said atas karya itu melampaui pandangan kanonik (kanonik; berasal dari kanon istilah kanon menegaskan suatu eksistensi kelompok yang berkuasa yang mencipta kebudayaan klasik melalui prinsip dan pencakupan secara arbitrer) pandangan kanonik tersebut dilihat yaitu dengan berbicara tentang kurangnya perhatian Austen terhadap sejarah colonial ataupun perhatiannya yang terlampau dibesar-besarkan terhadap isu-isu dalam negeri. Said mengkontekstualisasikan novel itu didalam wilayah dominasi privat dan perbudakan. Kepergian Sir Thomas Bertram dari Mansfield Park untuk mengurus usaha pertaniannya di Antigua (sekarang kita kenal dengan daerah wadadli di kawasan india barat) diperlukan untuk memelihara tatanan dan gaya hidup tertentu; perdagangan budak, dan gula hanya dilihat sebagai upaya untuk memelihara kesejahteraan dalam lingkupdomestik dimana corak budaya imperialais menyusup ke segenap aspek kehidupan. Lebih lengkapnya lihat Shelley Walia dalam Edward Said and Writing History Edward Said and Writing History, p50.          
[2] Lihat  Mark Skousen, “The Making of Modern Economics The Lives and the Ideas of the Great Thinkers”, M.E. Sharpe, New York, 2001, p 96
[3] Lihat Steven G. Medema dan Warren J. Samuels dalam “The History of Economic Thought: A Reader” Routledge, London, 2003, p 235.
[4] Ronald Harry Coase seorang ekonom Amerika kelahiran Inggris pada 29 Desember 1910 dia seorang professor emeritus ekonomi di University of Chicago Law School. Ia banyak menulis buku-buku dan esay terkait politik dan ekonomi serta filsafat.
[5] Lebih detailnya lihat Mark Skousen opcit pg 94.
[6] Ibid, pg 98.
[7] Dalam Prinsiples of Political Economy and Taxation Prinsiples of Political Economy and Taxation Ricardo Mengatakan bahwa “Pemecahan yang saya tawarkan untuk menanggulangi persoalan dalam keuangan kita adalah Bank harus pelan-pelan menurunkan uang yang beredar sampai sebanding dengan logam [mulia] yang di presentasikannya atau dengan kata lain sampai harga emas dan perak turun senilai mata uangnya”, lebih detailnya lihat Ricardo Prinsiples of Political Economy and Taxation Prinsiples of Political Economy and Taxation pg. 287.     
   
[8] Mark Skousen dalam “Sang Maestro Teori-teori Ekonomi Modern: Sejarah Pemikiran Ekonomi”, Prenada, Jakarta, Edisi 3, 2009, page 123.
[9] Ibid pg 124
[10] Lihat David Ricardo dalam, On the principles of political economy, and taxation, London 1821, pg. 140-141

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar